Cerita biasa ini saya dapatkan dari seorang biasa yang saya temui di MTR line Tung Ching Hongkong.
Seorang wanita paruh baya yang merantau ribuan mil dari tanah kelhirannya untuk membiayai kuliah anak perempuannya.
“Saya ini orang gak punya mas Iwet, gak ada yang bisa saya tinggalin buat anak saya selain ilmu”
“kalau harta itu bisa habis, kalo ilmu kan bisa dia pake buat cari uang lagi” lanjutnya dengan muka datar tanpa ekspresi.
Saya terdiam…
Ini belum seberapa, kemudian obrolan saya lanjutkan dengan perempuan yang berasal dari Kendari ini.
“Suami dimana bu?” Tanya saya…
“Di Irian mas, kerja di perusahaan BUMN…”
“Tapi uangnya gak cukup kalo buat biayain semuanya, jadi biar saya aja yang ngalah kerja sampai jauh ke sini”
Tipikal seorang Ibu kata saya dalam hati, mau menghandle dan mengatasi semua masalah sendiri.
“Ketemu sama suami dan anak setahun sekali bu?” tanya saya lagi…
“Yaaah gak tentu mas…”
“Tapi gak mungkin setahun sekali, sayang uangnya, kadang bisa dua tahun sekali” “Pernah juga empat tahun saya gak pulang…”
Perasaan hati saya mulai tidak menentu rasanya.
“Ibu gak kangen sama suami sama anak?” pertanyaan standar, tapi cuma itu yang bisa terlontar dari mulut saya…
“hehe…ya kangen sekali mas,tapi mau gimana lagi…hidup itu kan pilihan, sekarang ya saya sudah milih begini ya harus dijalanin sambil ditahan-tahan kangennya…”
Saya diam, sambil melihat wajah ibu yang berjuang ribuan mil dari tanah kelahirannya menghadapi majikan yang bisa baik, bisa jahat. Semuanya dia telan demi kebahagiaan dan kesejahteraan anak dan keluarganya…
Stasiun Tung Chung pun menjadi pemisah obrolan kami malam itu…
Pesannya untuk saya cuma satu…
“Mas Iwet belajar bahasa Kanton mas, jadi kalo ke Hongkong bisa lebih enak…kan mukanya udah mirip orang Hongkong…”