Orang ini GILA!! 

Buku ini adalah kumpulan jawaban Charles Saatchi dari pertanyaan-pertanyaan wartawan dan juga karyawannya buat dia.

Jawabannya nunjukin sekali pola pikirnya yang out of the box dan caranya yang enteng dalam menghadapi hidup.

Contohnya adalah ini:
IF YOU HAF A MOTTO WHAT WOULD  IT BE?

What is the point of a motto? 
You will inevitably let yourself down if it’s an inspirational motto.
If it’s a simple call for extra effort, you will quickly get irritated by the constant prodding. 
If it’s a motto that inspires kindness and good works you will forever be haunted by guilt.
Leave mottos to other people who enjoy carrying a burden throughout their lives.

What do you think temans?

Orang ini GILA!!

Buku ini adalah kumpulan jawaban Charles Saatchi dari pertanyaan-pertanyaan wartawan dan juga karyawannya buat dia.

Jawabannya nunjukin sekali pola pikirnya yang out of the box dan caranya yang enteng dalam menghadapi hidup.

Contohnya adalah ini:
IF YOU HAF A MOTTO WHAT WOULD IT BE?

What is the point of a motto?
You will inevitably let yourself down if it’s an inspirational motto.
If it’s a simple call for extra effort, you will quickly get irritated by the constant prodding.
If it’s a motto that inspires kindness and good works you will forever be haunted by guilt.
Leave mottos to other people who enjoy carrying a burden throughout their lives.

What do you think temans?

@8 months ago with 2 notes
Sarapan yang menarik…

Lewat majalah ini baru tau bahwa ternyata wilayah Majapahit itu bener-bener cuma ada di Jawa Timur dan Jawa Tengah. 

Menurut Hasan Djafar-Ahli arkeologi epigraf dan sejarah kuno, tidak ada satupun bukti tertulis yang menyebutkan wilayah kekuasaan Majapahit mencapai seluruh wilayah Nusantara seperti sekarang ini.

Yang ada…
Majapahit menjalin kerjasama sangat baik dengan kerajaan-kerajaan di seluruh Nusantara untuk mengamankan kerjaannya sendiri supaya perdagangan mereka lancar. Untuk mengamankan perdagangan ini dan membentuk kerjasama yang baik, dibuatlah Mitra Satata.

Kenapa bisa terjadi konsepsi bahwa wilayah Majapahit meliputi seluruh wilayah Nusantara?

Busa jadi ini sebenarnya merupakan konsepsi yang dibuat oleh negarawan kita di masa pembentukan RI.

Sarapan yang menarik…

Lewat majalah ini baru tau bahwa ternyata wilayah Majapahit itu bener-bener cuma ada di Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Menurut Hasan Djafar-Ahli arkeologi epigraf dan sejarah kuno, tidak ada satupun bukti tertulis yang menyebutkan wilayah kekuasaan Majapahit mencapai seluruh wilayah Nusantara seperti sekarang ini.

Yang ada…
Majapahit menjalin kerjasama sangat baik dengan kerajaan-kerajaan di seluruh Nusantara untuk mengamankan kerjaannya sendiri supaya perdagangan mereka lancar. Untuk mengamankan perdagangan ini dan membentuk kerjasama yang baik, dibuatlah Mitra Satata.

Kenapa bisa terjadi konsepsi bahwa wilayah Majapahit meliputi seluruh wilayah Nusantara?

Busa jadi ini sebenarnya merupakan konsepsi yang dibuat oleh negarawan kita di masa pembentukan RI.

@8 months ago

deviseftia asked: Halo Mas iwet, boleh saya minta email? untu keperluan kerjasama, terimakasih :)

Haiii…silahkan email ke iwetramadhan@gmail.com terimakasih :)

@1 year ago
Tulisan ini mungkin akan terbaca sangat norak hehehe…
Masalah paling besar dalam hidup saya pada saat ini adalah masalah cinta.
Yes! Love problem…

Tanpa bermaksud untuk menjadi jumawa, tapi saya berani bilang saya terbiasa menghadapi masalah dan menyelesaikannya baik sendiri maupun bersama tim. Tapi tidak untuk urusan cinta.
Kalau sudah menyangkut masalah hati, saya adalah orang paling bodoh dan benar-benar clueless dalam menghadapinya.

Even Superman has Kryptonite as his weakness correct?

Begitu juga dengan saya…
Hubungan empat tahun ini benar-benar sudah jadi kelemahan nomor satu saya. Keinginan untuk meninggalkan masalah ini sudah lama ada. Tapi keinginan hanya menjadi sebuah angan ketika tidak ada tindakan.

Sampailah saya disebuah titik yang membuat saya tersadar kalau saya harus meninggalkan ini semua. Tidak ada yang bisa diharapkan dari hubungan ini. Untuk apa bertahan pada satu orang yang tidak bisa lepas dari masa lalunya….
Sampai kapanpun dia akan terus bergantung di masa lalu itu. Dan yang lebih parah adalah ketika dia tidak mau meninggalkan masa lalu itu.

Ibaratnya seperti kereta api, sebuah gerbong mengejar lokomotif dan saya ada di gerbong paling belakang…

Banyak orang moving away tapi tidak moving on…

Adalah seorang teman yang menyadarkan saya akan hal ini…
Karena dia memiliki masalah yang sama dengan saya, paling tidak…mirip hehehe.

There is a fine fine line between love and a waste of time.

I thank you for the beautiful four years. For sure i’ve learned my lesson, and yes because i knew you, i have been changed for good…

Saatnya saya untuk memikirkan diri saya sendiri. More ME less YOU!!!
Its time for me to think about ME more, not us not you, i have to treat my self well because i am precious.

Its time to make some shock therapy for me.
I repeat it is for me not you so i will learn that my life would be ok without you.
I wont be afraid of a change, it is the only thing that is constant in life.

There is a fine fine line between together and not.
Yes we can be friend but not now.
I have to bring my self to the equilibrium first.
Happiness is in me not in you or others.
Small step as a start would be fine….


Thank you.

Tulisan ini mungkin akan terbaca sangat norak hehehe…
Masalah paling besar dalam hidup saya pada saat ini adalah masalah cinta.
Yes! Love problem…

Tanpa bermaksud untuk menjadi jumawa, tapi saya berani bilang saya terbiasa menghadapi masalah dan menyelesaikannya baik sendiri maupun bersama tim. Tapi tidak untuk urusan cinta.
Kalau sudah menyangkut masalah hati, saya adalah orang paling bodoh dan benar-benar clueless dalam menghadapinya.

Even Superman has Kryptonite as his weakness correct?

Begitu juga dengan saya…
Hubungan empat tahun ini benar-benar sudah jadi kelemahan nomor satu saya. Keinginan untuk meninggalkan masalah ini sudah lama ada. Tapi keinginan hanya menjadi sebuah angan ketika tidak ada tindakan.

Sampailah saya disebuah titik yang membuat saya tersadar kalau saya harus meninggalkan ini semua. Tidak ada yang bisa diharapkan dari hubungan ini. Untuk apa bertahan pada satu orang yang tidak bisa lepas dari masa lalunya….
Sampai kapanpun dia akan terus bergantung di masa lalu itu. Dan yang lebih parah adalah ketika dia tidak mau meninggalkan masa lalu itu.

Ibaratnya seperti kereta api, sebuah gerbong mengejar lokomotif dan saya ada di gerbong paling belakang…

Banyak orang moving away tapi tidak moving on…

Adalah seorang teman yang menyadarkan saya akan hal ini…
Karena dia memiliki masalah yang sama dengan saya, paling tidak…mirip hehehe.

There is a fine fine line between love and a waste of time.

I thank you for the beautiful four years. For sure i’ve learned my lesson, and yes because i knew you, i have been changed for good…

Saatnya saya untuk memikirkan diri saya sendiri. More ME less YOU!!!
Its time for me to think about ME more, not us not you, i have to treat my self well because i am precious.

Its time to make some shock therapy for me.
I repeat it is for me not you so i will learn that my life would be ok without you.
I wont be afraid of a change, it is the only thing that is constant in life.

There is a fine fine line between together and not.
Yes we can be friend but not now.
I have to bring my self to the equilibrium first.
Happiness is in me not in you or others.
Small step as a start would be fine….


Thank you.

@1 year ago with 2 notes
Membuat Hidup Simple Dalam 140 Karakter…

Setelah gaya hidup serba instant merajalela, ada sebuah fenomena baru yang terjadi disekeliling kita, kalau sempat teramati…Gaya hidup simple cukup dengann 140 karakter.

Simple, tidak perlu bertatap muka…mention di twitter aja.
Simple, tidak perlu banyak penjelasan,…gak akan cukup 140 karakter menjelaskan banyak hal. Malas ah klik link-nya twitlonger.
Simple, dunia sekarang gak ada batasannya…semua orang bisa terhubung lewat twitter.
Simple, mau ngumpulin crowd tinggal di tweet aja.
Simple, mau bikin gerakan tinggal pake hashtag aja…
Simple, tidak perlu banyak penjelasan,…gak akan cukup 140 karakter menjelaskan banyak hal. Malas ah klik link-nya twitlonger.

Dan saya pun menghela nafas…
Tadinya saya termasuk pemuja prinsip hidup simple ini. Malas bertele-tele, tidak mau banyak bertatap muka, lebih banyak terbenam menatap layar smartphone yg makin buram.

Lalu saya tersadar…
Ada banyak hal yang masih harus dijelaskan…
Ada banyak hal yang masih butuh kalimat lengkap dengan struktur S P O K.
Ada banyak hal yang masih butuh sentuhan fisik dan eye contact. Ini semua yang sebenarnya mengikat manusia yang satu dengan manusia yang lain.

Bahasa lisan sangat berbeda dengan bahasa tulis. 
Tidak ada intonasi dalam bahasa tulis. Terkadang emoticon pun tidak berhasil menterjemahkan nada dan irama bahasa tulisan.
Salah sangka dan salah persepsi kemudian terjadi…

Orang modern…
Selalu merasa dirinya keren…

Namun tidak begitu ternyata aturannya. 
Hidup masih ada ketentuannya. Semua masih harus melalui tata krama, unggah ungguh, dan norma.
Ahhh…saya mulai terdengar seperti manusia jaman batu…

Tapi coba pikir,berapa kali kita bermasalah dengan orang lain, brief pekerjaan, dan kehidupan sosial hanya karena terlalu sibuk dengan social media, chat group, bbm, dan pesan-pesan singkat yang selalu muncul di layar smartphone…

Saatnya kita mendongak, dan hidup dalam kehidupan nyata dimana karakter manusia tidak hanya 140 karakter jumlahnya.

Membuat Hidup Simple Dalam 140 Karakter…

Setelah gaya hidup serba instant merajalela, ada sebuah fenomena baru yang terjadi disekeliling kita, kalau sempat teramati…Gaya hidup simple cukup dengann 140 karakter.

Simple, tidak perlu bertatap muka…mention di twitter aja.
Simple, tidak perlu banyak penjelasan,…gak akan cukup 140 karakter menjelaskan banyak hal. Malas ah klik link-nya twitlonger.
Simple, dunia sekarang gak ada batasannya…semua orang bisa terhubung lewat twitter.
Simple, mau ngumpulin crowd tinggal di tweet aja.
Simple, mau bikin gerakan tinggal pake hashtag aja…
Simple, tidak perlu banyak penjelasan,…gak akan cukup 140 karakter menjelaskan banyak hal. Malas ah klik link-nya twitlonger.

Dan saya pun menghela nafas…
Tadinya saya termasuk pemuja prinsip hidup simple ini. Malas bertele-tele, tidak mau banyak bertatap muka, lebih banyak terbenam menatap layar smartphone yg makin buram.

Lalu saya tersadar…
Ada banyak hal yang masih harus dijelaskan…
Ada banyak hal yang masih butuh kalimat lengkap dengan struktur S P O K.
Ada banyak hal yang masih butuh sentuhan fisik dan eye contact. Ini semua yang sebenarnya mengikat manusia yang satu dengan manusia yang lain.

Bahasa lisan sangat berbeda dengan bahasa tulis.
Tidak ada intonasi dalam bahasa tulis. Terkadang emoticon pun tidak berhasil menterjemahkan nada dan irama bahasa tulisan.
Salah sangka dan salah persepsi kemudian terjadi…

Orang modern…
Selalu merasa dirinya keren…

Namun tidak begitu ternyata aturannya.
Hidup masih ada ketentuannya. Semua masih harus melalui tata krama, unggah ungguh, dan norma.
Ahhh…saya mulai terdengar seperti manusia jaman batu…

Tapi coba pikir,berapa kali kita bermasalah dengan orang lain, brief pekerjaan, dan kehidupan sosial hanya karena terlalu sibuk dengan social media, chat group, bbm, dan pesan-pesan singkat yang selalu muncul di layar smartphone…

Saatnya kita mendongak, dan hidup dalam kehidupan nyata dimana karakter manusia tidak hanya 140 karakter jumlahnya.

@1 year ago with 5 notes
Bab Baru…

Masih ingat sekali, Desember 2011 pamitan untuk gak siaran pagi lagi. Cape, penat, bosaaan…

Juli 2012, tiba-tiba muncul lagi, kembali siaran pagi dengan partner yang beda di radio yang juga sangat berbeda.

Saya gak tahan…
Terlalu banyak cerita yang harus saya sampaikan.
Terlalu banyak hal yang harus saya bahas…
Bercerita membuat saya selalu merasa terisi kembali.

90.4FM CosmopolitanFM jadi rumah baru saya.
Bersama teman dekat saya Novita Angie, saya mengeksplore sebuah babak baru dalam hidup.

Teman baru, kebiasaan baru, dan ragam bahasan baru yang sangat menarik.
Berbagi problema kehidupan, berbagi tips sehat, belajar sisi lain financial planning, menyeimbangkan hidup sampai ke sisi yang paling dalam.

Ternyata saya gak bisa berhenti bercerita, saya belum sanggup berhenti belajar, saya tidak tahan untuk berada dalam air berarus tenang.

Ibarat surfer…saya sangat proaktif mencari ombak.

CosmopolitanFM adalah ombak saya yang baru…
Ombak yang saya terjang Senin sampai Jumat jam 06.00-10.00 pagi.

Cari masalah?
Sama sekali tidak! 
Prinsip saya simple saja, semakin banyak ombak yang kita terjang, dan berhasil dilalui, semakin jago kita berselancar.

Bab Baru…

Masih ingat sekali, Desember 2011 pamitan untuk gak siaran pagi lagi. Cape, penat, bosaaan…

Juli 2012, tiba-tiba muncul lagi, kembali siaran pagi dengan partner yang beda di radio yang juga sangat berbeda.

Saya gak tahan…
Terlalu banyak cerita yang harus saya sampaikan.
Terlalu banyak hal yang harus saya bahas…
Bercerita membuat saya selalu merasa terisi kembali.

90.4FM CosmopolitanFM jadi rumah baru saya.
Bersama teman dekat saya Novita Angie, saya mengeksplore sebuah babak baru dalam hidup.

Teman baru, kebiasaan baru, dan ragam bahasan baru yang sangat menarik.
Berbagi problema kehidupan, berbagi tips sehat, belajar sisi lain financial planning, menyeimbangkan hidup sampai ke sisi yang paling dalam.

Ternyata saya gak bisa berhenti bercerita, saya belum sanggup berhenti belajar, saya tidak tahan untuk berada dalam air berarus tenang.

Ibarat surfer…saya sangat proaktif mencari ombak.

CosmopolitanFM adalah ombak saya yang baru…
Ombak yang saya terjang Senin sampai Jumat jam 06.00-10.00 pagi.

Cari masalah?
Sama sekali tidak!
Prinsip saya simple saja, semakin banyak ombak yang kita terjang, dan berhasil dilalui, semakin jago kita berselancar.

@8 months ago
Orang yang saya Gugu dan saya Tiru…

Namanya Sujudiman Saleh. Lahir di Tuban  68 tahun yang lalu…
Orang ini adalah orang yang keras….tidak hanya kepada orang-orang diaekitarnya tetapi juga kepada dirinya sendiri. 
Dia adalah gambaran laki-laki Jawa sejati.
Tidak banyak bicara, banyak bertindak dan punya prinsip yang dipegangnya dengan teguh. 

Prinsip-prinsip hidup ini sering sekali dia sampaikan ke saya lewat perjalanan 45 menit dari Jatiwaringin sampai Kampung Melayu di masa-masa SMA saya. Ya, papa tidak mengeluh sama sekali untuk mengambil jalan melambung mengantarkan anak paling kecilnya sampai di Kampung Melayu lalu ia akan berputar balik dan menuju kantornya di Cilangkap.

Untuk urusan pendidikan dia tidak main-main. Bahkan ia rela untuk puasa setahun penuh kalau perlu, agar anaknya bisa bersekolah sampai di jenjang yang terrtinggi. 
Dia tidak pernah menghadiahi kami anak-anaknya dengan barang mewah atau mainan terbaru tapi dia membuat sebuah perpustakaan dengan koleksi buku yang ditempatkan dalam rak buku tinggi menjulang sampai ke langit-langit rumah kami.

Papa pernah bilang,
“Saya gak pernah punya cita-cita jadi orang kaya, sejak kecil papa cuma pingin ngerasain gimana rasanya jadi orang dengan gelar Doktor”
Dan gelar itu papa sudah pegang sekarang…gelar yang diraihnya dengan mudah. Papa memang pintar karena  senang belajar juga mengajar.

Dia menghabiskan masa tuanya sekarang dengan mengajar…

Papa orang yang punya tujuan, tapi tidak pernah ngoyo dalam mengejar tujuannya. Dia paham sekali bahwa segala sesuatu didunia ini atas kehendak Tuhan…
“Sekeras apapun kita berusaha nak…kalau Tuhan gak menghendaki ya gak akan terjadi…”

Papa juga selalu mengingatkan, untuk sempatkan diri duduk, diam dan mengamati…orang yang banyak diam tidak selalu tidak tahu apa-apa. Orang yang banyak diam lebih banyak mengamati…lebih banyak menyerap dan lebih banyak tau…

Susah sekali untuk bisa mengungkapkan rasa sayang ke papa saya gak terbiasa untuk mengungkapkan perasaan sayang lewat ucapan-ucapan…

Tapi tulisan ini rasanya cukup menggambarkan seperti apa perasaan saya terhadap laki-laki ini…

Orang yang saya Gugu dan saya Tiru…

Namanya Sujudiman Saleh. Lahir di Tuban 68 tahun yang lalu…
Orang ini adalah orang yang keras….tidak hanya kepada orang-orang diaekitarnya tetapi juga kepada dirinya sendiri.
Dia adalah gambaran laki-laki Jawa sejati.
Tidak banyak bicara, banyak bertindak dan punya prinsip yang dipegangnya dengan teguh.

Prinsip-prinsip hidup ini sering sekali dia sampaikan ke saya lewat perjalanan 45 menit dari Jatiwaringin sampai Kampung Melayu di masa-masa SMA saya. Ya, papa tidak mengeluh sama sekali untuk mengambil jalan melambung mengantarkan anak paling kecilnya sampai di Kampung Melayu lalu ia akan berputar balik dan menuju kantornya di Cilangkap.

Untuk urusan pendidikan dia tidak main-main. Bahkan ia rela untuk puasa setahun penuh kalau perlu, agar anaknya bisa bersekolah sampai di jenjang yang terrtinggi.
Dia tidak pernah menghadiahi kami anak-anaknya dengan barang mewah atau mainan terbaru tapi dia membuat sebuah perpustakaan dengan koleksi buku yang ditempatkan dalam rak buku tinggi menjulang sampai ke langit-langit rumah kami.

Papa pernah bilang,
“Saya gak pernah punya cita-cita jadi orang kaya, sejak kecil papa cuma pingin ngerasain gimana rasanya jadi orang dengan gelar Doktor”
Dan gelar itu papa sudah pegang sekarang…gelar yang diraihnya dengan mudah. Papa memang pintar karena senang belajar juga mengajar.

Dia menghabiskan masa tuanya sekarang dengan mengajar…

Papa orang yang punya tujuan, tapi tidak pernah ngoyo dalam mengejar tujuannya. Dia paham sekali bahwa segala sesuatu didunia ini atas kehendak Tuhan…
“Sekeras apapun kita berusaha nak…kalau Tuhan gak menghendaki ya gak akan terjadi…”

Papa juga selalu mengingatkan, untuk sempatkan diri duduk, diam dan mengamati…orang yang banyak diam tidak selalu tidak tahu apa-apa. Orang yang banyak diam lebih banyak mengamati…lebih banyak menyerap dan lebih banyak tau…

Susah sekali untuk bisa mengungkapkan rasa sayang ke papa saya gak terbiasa untuk mengungkapkan perasaan sayang lewat ucapan-ucapan…

Tapi tulisan ini rasanya cukup menggambarkan seperti apa perasaan saya terhadap laki-laki ini…

@11 months ago with 2 notes

everylittlething asked: hal yang selalu buat aku penasaran, untuk orang seperti mas iwet, if you're not lucky enough to be in this position like where you are right now, what is the most simple thing that will make you happy? (rina)

Hi Rina, sorry for the late reply. My answer to your question would be…hmmm i’ll get back to you very soon…let me find the answer first…mmmm -_-

@1 year ago
Bangsa Tanpa Identitas

Namanya adalah Elizabeth, usianya 40 sekian tahun…
Rambutnya pendek, matanya berbinar dengan gerak tubuh yang lincah. Malam itu dia berpakaian baju kurung pendek, berkain pekalongan pagi sore dengan cara pakai yang sangat unik. Sangat berkarakter.
Sudah hampir 25 tahun Elizabeth menjelajahi negri ini. Profesinya sebagai jurnalis, dan juga ahli kesehatan masyarakat membuatnya bisa menjelajahi negri ini.
Selama 25 tahun itu dia benar2 berkenalan dengan negri ini sampai ke atom terkecilnya. 

Mulai dari #ceritaBatik sampai cerita klenik dia tau semua.
Elizabeth adalah pribadi yang sangat menarik, sama menariknya dengan cerita-ceritanya yang unik.

Malam itu, Elizabeth bercerita soal identitas bangsa yang hilang.
Ya…Identitas bangsa kita tercinta, Indonesia.
Cerita ini dimulai dengan pertanyaan singkat…setuju gak kamu kalau identitas bangsa ini semakin lama semakin hilang?

Setuju! Jawab saya dengan cepat.
Apalagi di kota besar, semakin banyak sekarang anak muda yang berpikir terlalu maju, dan sangat mendewakan modernisasi dan westernisasi. Segala sesuatu yang berbaunluar negri dianggap keren dan sebaliknya sesuatu yang bersifat tradisional dan lokal dianggap kampungan.

Dia tersenyum, lalu menjawab…
Betul dan juga salah…

Kenapa? Tanya saya…

Betul karena memang itubyang terjadi di kota-kota besar di Indonesia. Tapi kalau kamu berkeliling ke bagian-bagian Indonesia yang terpencil…seperti daerah-daerah kecil di Indonesia Timur, mereka justru sangat memegang teguh budaya dan adat istiadatnya sendiri. Saking mereka sangat memegang teguh budaya dan adat istiadatnya, jarang sekali dari mereka yang berbicara dalam bahasa Indonesia, dan menganggap Indonesia tidak terlalu penting.
Seperti anak yang tidak terlalu diperhatikan oleh orang tuanya, begitu pula masyarakat Indonesia yang tinggal di daerah-daerah terpencil ini. Tidak ada ikatan batin dan emosional antara mereka dengan Indonesia.
Yang lebih mengerikan adalah sewaktu-waktu mereka tidak segan-segan untuk melepaskan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia…
Dan obrolan-obrolan mengenai pemisahan diri ini sudah menjadi topik pembicaraan sehari-hari yang kerap dibicarakan dalam perbincangan sehari-hari.

Sedih…dan mengenaskan…
Saya tidak pernah tahu tentang fakta ini…
Sangat luas sekali negeri ini. Banyak yang tidak tersebar merata di negri ini. Mulai dari kesejahteraan sampai dengan cerita-cerita menarik seperti ini.
Kita terlalu fokus dengan hal-hal yang terlalu jauh.
Beberapa mungkin sibuk sekali berusaha memperkanalkan Indonesia ke luar negri…tapi sungguh ironis kalau ternyata kita sendiri belum berkenalan dengan semua aspek elemen yang ada di negri ini.

Yang lebih mengerikan lagi adalah, 
Bangsa ini tidak punya Identitas…identitas yang bisa mengikat antara satu orang dengan orang lainnya…
Identitas yang membuat kita bangga dengan negara kita…
Identitas kita sebagai orang Indonesia.

Bangsa Tanpa Identitas

Namanya adalah Elizabeth, usianya 40 sekian tahun…
Rambutnya pendek, matanya berbinar dengan gerak tubuh yang lincah. Malam itu dia berpakaian baju kurung pendek, berkain pekalongan pagi sore dengan cara pakai yang sangat unik. Sangat berkarakter.
Sudah hampir 25 tahun Elizabeth menjelajahi negri ini. Profesinya sebagai jurnalis, dan juga ahli kesehatan masyarakat membuatnya bisa menjelajahi negri ini.
Selama 25 tahun itu dia benar2 berkenalan dengan negri ini sampai ke atom terkecilnya.

Mulai dari #ceritaBatik sampai cerita klenik dia tau semua.
Elizabeth adalah pribadi yang sangat menarik, sama menariknya dengan cerita-ceritanya yang unik.

Malam itu, Elizabeth bercerita soal identitas bangsa yang hilang.
Ya…Identitas bangsa kita tercinta, Indonesia.
Cerita ini dimulai dengan pertanyaan singkat…setuju gak kamu kalau identitas bangsa ini semakin lama semakin hilang?

Setuju! Jawab saya dengan cepat.
Apalagi di kota besar, semakin banyak sekarang anak muda yang berpikir terlalu maju, dan sangat mendewakan modernisasi dan westernisasi. Segala sesuatu yang berbaunluar negri dianggap keren dan sebaliknya sesuatu yang bersifat tradisional dan lokal dianggap kampungan.

Dia tersenyum, lalu menjawab…
Betul dan juga salah…

Kenapa? Tanya saya…

Betul karena memang itubyang terjadi di kota-kota besar di Indonesia. Tapi kalau kamu berkeliling ke bagian-bagian Indonesia yang terpencil…seperti daerah-daerah kecil di Indonesia Timur, mereka justru sangat memegang teguh budaya dan adat istiadatnya sendiri. Saking mereka sangat memegang teguh budaya dan adat istiadatnya, jarang sekali dari mereka yang berbicara dalam bahasa Indonesia, dan menganggap Indonesia tidak terlalu penting.
Seperti anak yang tidak terlalu diperhatikan oleh orang tuanya, begitu pula masyarakat Indonesia yang tinggal di daerah-daerah terpencil ini. Tidak ada ikatan batin dan emosional antara mereka dengan Indonesia.
Yang lebih mengerikan adalah sewaktu-waktu mereka tidak segan-segan untuk melepaskan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia…
Dan obrolan-obrolan mengenai pemisahan diri ini sudah menjadi topik pembicaraan sehari-hari yang kerap dibicarakan dalam perbincangan sehari-hari.

Sedih…dan mengenaskan…
Saya tidak pernah tahu tentang fakta ini…
Sangat luas sekali negeri ini. Banyak yang tidak tersebar merata di negri ini. Mulai dari kesejahteraan sampai dengan cerita-cerita menarik seperti ini.
Kita terlalu fokus dengan hal-hal yang terlalu jauh.
Beberapa mungkin sibuk sekali berusaha memperkanalkan Indonesia ke luar negri…tapi sungguh ironis kalau ternyata kita sendiri belum berkenalan dengan semua aspek elemen yang ada di negri ini.

Yang lebih mengerikan lagi adalah,
Bangsa ini tidak punya Identitas…identitas yang bisa mengikat antara satu orang dengan orang lainnya…
Identitas yang membuat kita bangga dengan negara kita…
Identitas kita sebagai orang Indonesia.

@1 year ago
Cerita biasa ini saya dapatkan dari seorang biasa yang saya temui di MTR line Tung Ching Hongkong.

Seorang wanita paruh baya yang merantau ribuan mil dari tanah kelhirannya untuk membiayai kuliah anak perempuannya.
“Saya ini orang gak punya mas Iwet, gak ada yang bisa saya tinggalin buat anak saya selain ilmu”
“kalau harta itu bisa habis, kalo ilmu kan bisa dia pake buat cari uang lagi” lanjutnya dengan muka datar tanpa ekspresi.

Saya terdiam…
Ini belum seberapa, kemudian obrolan saya lanjutkan dengan perempuan yang berasal dari Kendari ini.

“Suami dimana bu?” Tanya saya…

“Di Irian mas, kerja di perusahaan BUMN…”
“Tapi uangnya gak cukup kalo buat biayain semuanya, jadi biar saya aja yang ngalah kerja sampai jauh ke sini”

Tipikal seorang Ibu kata saya dalam hati, mau menghandle dan mengatasi semua masalah sendiri.

“Ketemu sama suami dan anak setahun sekali bu?” tanya saya lagi…

“Yaaah gak tentu mas…”
“Tapi gak mungkin setahun sekali, sayang uangnya, kadang bisa dua tahun sekali” “Pernah juga empat tahun saya gak pulang…”

Perasaan hati saya mulai tidak menentu rasanya.

“Ibu gak kangen sama suami sama anak?” pertanyaan standar, tapi cuma itu yang bisa terlontar dari mulut saya…

“hehe…ya kangen sekali mas,tapi mau gimana lagi…hidup itu kan pilihan, sekarang ya saya sudah milih begini ya harus dijalanin sambil ditahan-tahan kangennya…”

Saya diam, sambil melihat wajah ibu yang berjuang ribuan mil dari tanah kelahirannya menghadapi majikan yang bisa baik, bisa jahat. Semuanya dia telan demi kebahagiaan dan kesejahteraan  anak dan keluarganya…






Stasiun Tung Chung pun menjadi pemisah obrolan kami malam itu…

Pesannya untuk saya cuma satu…

“Mas Iwet belajar bahasa Kanton mas, jadi kalo ke Hongkong bisa lebih enak…kan mukanya udah mirip orang Hongkong…”

Cerita biasa ini saya dapatkan dari seorang biasa yang saya temui di MTR line Tung Ching Hongkong.

Seorang wanita paruh baya yang merantau ribuan mil dari tanah kelhirannya untuk membiayai kuliah anak perempuannya.
“Saya ini orang gak punya mas Iwet, gak ada yang bisa saya tinggalin buat anak saya selain ilmu”
“kalau harta itu bisa habis, kalo ilmu kan bisa dia pake buat cari uang lagi” lanjutnya dengan muka datar tanpa ekspresi.

Saya terdiam…
Ini belum seberapa, kemudian obrolan saya lanjutkan dengan perempuan yang berasal dari Kendari ini.

“Suami dimana bu?” Tanya saya…

“Di Irian mas, kerja di perusahaan BUMN…”
“Tapi uangnya gak cukup kalo buat biayain semuanya, jadi biar saya aja yang ngalah kerja sampai jauh ke sini”

Tipikal seorang Ibu kata saya dalam hati, mau menghandle dan mengatasi semua masalah sendiri.

“Ketemu sama suami dan anak setahun sekali bu?” tanya saya lagi…

“Yaaah gak tentu mas…”
“Tapi gak mungkin setahun sekali, sayang uangnya, kadang bisa dua tahun sekali” “Pernah juga empat tahun saya gak pulang…”

Perasaan hati saya mulai tidak menentu rasanya.

“Ibu gak kangen sama suami sama anak?” pertanyaan standar, tapi cuma itu yang bisa terlontar dari mulut saya…

“hehe…ya kangen sekali mas,tapi mau gimana lagi…hidup itu kan pilihan, sekarang ya saya sudah milih begini ya harus dijalanin sambil ditahan-tahan kangennya…”

Saya diam, sambil melihat wajah ibu yang berjuang ribuan mil dari tanah kelahirannya menghadapi majikan yang bisa baik, bisa jahat. Semuanya dia telan demi kebahagiaan dan kesejahteraan anak dan keluarganya…


Stasiun Tung Chung pun menjadi pemisah obrolan kami malam itu…

Pesannya untuk saya cuma satu…

“Mas Iwet belajar bahasa Kanton mas, jadi kalo ke Hongkong bisa lebih enak…kan mukanya udah mirip orang Hongkong…”

@1 year ago